Santri dan Uang: Menggugat Kemiskinan yang Dianggap Mulia

Salah satu problematika umat Islam di Indonesia—termasuk kalangan santri—sejak masa Majapahit hingga era modern ini adalah kemiskinan dan ketertinggalan dalam bidang ekonomi. Secara kasat mata, kondisi ekonomi warga negara Indonesia keturunan (Tionghoa, Arab, dan lainnya) cenderung lebih mapan dibandingkan pribumi Nusantara, termasuk alumni pesantren. Kebetulan, sejak kecil saya senang berdagang dan banyak bergaul dengan WNI non-pribumi. Sampai hari ini pun masih berdagang, meskipun hasilnya kadang “ra patiya payu” (tidak terlalu laris).

Secara umum, jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) pada WNI keturunan telah ditanamkan dan diasah sejak kecil. Hal ini berbeda dengan kalangan santri pribumi yang sejak kecil cenderung dimanjakan dan dibiasakan dengan doktrin-doktrin keagamaan seperti sabar, qanaah, tawakal, bahkan zuhud, yang sering diterjemahkan dalam falsafah Jawa: Alon-alon waton kelakon.” Sayangnya, prinsip-prinsip itu sering kali diterapkan secara tidak proporsional. Non-pribumi menjalankan kegiatan ekonomi berdasarkan disiplin ilmu dan prinsip-prinsip manajemen modern, sedangkan banyak santri memulai usaha dengan semangat “yang penting niat lillahi ta’ala” tanpa perencanaan yang matang. WNI keturunan umumnya berhasil karena tekun dan konsisten pada bidang usahanya. Mereka tahan banting, tidak mudah menyerah. Sementara sebagian santri justru mudah bosan, gampang berpindah-pindah usaha, dan menginginkan hasil yang serba instan. Mereka lupa akan pepatah kuno dari Inggris:


“A rolling stone gathers no moss.”
(Batu yang terus menggelinding tidak akan pernah ditumbuhi lumut).

Ada juga santri yang secara spiritual tidak tertarik untuk menjadi kaya karena mengamalkan ijazah doa:

اللهم أحييني مسكينًا وتوفني مسكينًا واحشرني مع المساكين
Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di hari kiamat bersama orang-orang miskin.

Karena menurut sebagian kyai, orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih awal daripada orang kaya. Kelebihan besar dari warga Tionghoa dalam hal ekonomi adalah kuatnya solidaritas dan sinergi di antara mereka. Mereka memiliki jaringan ekonomi keluarga yang solid. Ini berbeda dengan banyak masyarakat pribumi yang justru cenderung individualis, saling bersaing tidak sehat, bahkan sering diliputi rasa iri dan curiga. WNI keturunan yang saya kenal sangat detail dalam urusan keuangan dan menjalankan prinsip ekonomi produktif: pengeluaran harus lebih kecil dari pemasukan. Mereka selalu menyisihkan penghasilan untuk investasi dan pengembangan usaha. Sebaliknya, sebagian santri pribumi justru berpola pikir konsumtif. Pendapatan hari ini habis hari ini juga. Bahkan tak jarang, pengeluaran justru lebih besar dari pemasukan. Tidak ada alokasi untuk tambahan modal atau investasi jangka panjang. Ketika mendapat pinjaman modal, WNI keturunan menggunakannya 100% untuk kegiatan produktif. Tapi sebagian santri pribumi? Pinjaman modal sering kali lebih dulu dipakai untuk bayar utang, beli kendaraan, syukuran, atau kulineran. Usaha jadi sisaan. Akibatnya? Angsuran macet, agunan melayang.

Kerja sama ekonomi antarsantri dan antarumat Islam juga masih sangat lemah. Saya mengalami sendiri. Dulu pernah membuka toko material bangunan. Dalam hati saya berpikir, “Saya banyak kenalan pengasuh pesantren. Kalau mereka membangun atau renovasi, tentu beli material di toko saya.” Tapi kenyataannya? Mereka belanja di toko milik non-Muslim, sementara proposal sumbangan malah dikirim ke saya. Akhirnya toko saya gulung tikar. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sejak dulu hingga kini, saya selalu berusaha membeli barang dan jasa dari sesama Muslim, khususnya santri. Kalaupun harganya sedikit lebih mahal, tidak masalah. Prinsip saya ini saya tuangkan dalam istilah: Ukhuwwah Iqtishadiyyah – Persaudaraan dalam bidang ekonomi. Dalam Buku Catatan Seorang Santri, saya menulis sejumlah topik tentang ekonomi, seperti “Rezeki di Pagi Hari” dan “Mastop Motor”. Andai dibaca, dipahami, dan diamalkan, insya Allah para santri akan hidup berkecukupan, dan mungkin… bojone ora mung siji!

Penulis KH. Henry Sutopo

Penulis Buku Catatan Seorang Santri

2 komentar untuk “Santri dan Uang: Menggugat Kemiskinan yang Dianggap Mulia”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *