Pagi hari, Sabtu 28 Juni 2025, selepas Subuh, saya mendapat kabar duka bahwa Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah wafat di RS Dharmais Jakarta sekitar pukul 04.50 WIB. Saat itu, saya dan keluarga tengah berada di Kudus untuk menghadiri undangan pernikahan dan menjemput putri kami dari pesantren. Kami pun segera kembali ke Yogyakarta untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
Saya mengenal beliau sejak menjadi pengurus Ma’had Aly Al-Munawwir dan asisten di kediaman KH. Zainal Abidin Munawwir. Terkadang saya diamanahi untuk mengantarkan sesuatu kepada Ibu Nyai Hasyimah, ibunda beliau. Momen Idul Fitri menjadi saat yang ditunggu santri untuk bersilaturahmi ke kediaman Ibu Nyai Durroh Nafisah dan Ibu Nyai Hasyimah, karena selain mendapatkan nasihat, para santri juga dijamu dengan hangat. Pernah saya mendampingi beliau bersama Ibu Nyai Ida Fatimah dan Ibu Nyai Umi Salamah dalam perjalanan ke Surabaya. Sepanjang perjalanan, mereka banyak bercerita mengenai pesantren, keluarga, dan para alumni. Hubungan saya dengan beliau makin dekat setelah menikah dengan salah satu santri beliau, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komplek Hindun dan kini dipercaya memimpin IHFADHNA DIY.
Saya mendapat amanah dari beliau untuk mengajar dan belajar kitab di Komplek Hindun Beta. Kami bersama para santri mengaji kitab-kitab seperti At-Tibyan, Bidayatul Hidayah, Matan Ghayah wa Taqrib, dan kini Fathul Mu’in. Ngaji dilaksanakan setiap Kamis pagi setelah setoran dan murojaah Al-Qur’an. Tulisan ini merupakan bentuk sederhana dari rasa syukur saya atas teladan luar biasa yang diwariskan oleh Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah—sosok ulama perempuan yang konsisten mengabdi kepada Al-Qur’an, rendah hati, grapyak, dan mandiri.
Riwayat Hidup dan Pendidikan
Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah lahir di Bantul, 18 Agustus 1954. Dari jalur ayah, beliau adalah putri KH. Ali Maksum bin KH. Maksum Ahmad Lasem, dan dari jalur ibu, cucu dari KH. M. Moenawwir Krapyak, salah satu tokoh besar dalam dunia tahfidz Al-Qur’an di Indonesia. Ayah beliau, KH. Ali Maksum, adalah seorang ulama ensiklopedis yang pernah mengajar di IAIN Sunan Kalijaga dan menjadi Rais Aam PBNU (1981–1984). Sedangkan ibunya, Ibu Nyai Hasyimah, adalah sosok perempuan tangguh dan inovatif yang turut membangun lembaga pendidikan dan mushola khusus putri di Komplek N. Kakek dari pihak ibu, KH. M. Moenawwir, adalah pembawa sanad tahfidz Al-Qur’an dan Qiraat Sab’ah ke Indonesia. Dari pesantrennya, lahir banyak tokoh besar dalam bidang Al-Qur’an di berbagai penjuru tanah air. Sementara kakek dari jalur ayah, KH. Maksum Ahmad Lasem, dikenal sebagai pendidik para ulama besar seperti KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan KH. Bisri Musthofa (penulis Tafsir Al-Ibriz).
Ibu Nyai Durroh menikah dengan KH. Muhammad Nasikh Hamid, putra dari KH. Abdul Hamid Pasuruan. Dari pernikahan ini lahir putri tunggal, Ning Dr. Hindun Anisah, MA, yang juga seorang hafidzah dan tokoh perempuan aktif di berbagai ranah keilmuan, sosial, dan politik. Nama “Nafisah” adalah bentuk doa dari ayahandanya agar beliau meneladani Sayyidah Nafisah, ulama perempuan agung yang juga guru Imam Syafi’i. Pendidikan beliau diawali di Pesantren Krapyak, kemudian melanjutkan ke Pesantren Al-Hidayah Lasem dan Kempek Cirebon untuk memperdalam hafalan dan ilmu kitab.
Istiqamah dan Totalitas dalam Al-Qur’an
Ibu Nyai Durroh Nafisah dikenal sebagai seorang hafidzah yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik santriwati tahfidz di Komplek Hindun dan Komplek Beta (Bayt Tahfidz An-Nafisa). Beliau konsisten melakukan murojaah di mana pun dan dalam kondisi apa pun, bahkan saat mengendarai mobil atau menghadiri acara. Beliau punya tradisi memberi hadiah kepada santri yang mencapai target hafalan, diselingi dengan simaan selama perjalanan. Kedisiplinannya dalam membina santri begitu tinggi seperti santri wajib bangun sebelum subuh, mandi, dan menyetorkan hafalan tanpa melihat mushaf. Saat sakit pun, beliau tetap mengecek perkembangan santri. Beliau pernah menyampaikan, “Ingin sekali murojaah setiap hari, tapi lidah ini tidak mampu berbicara.” Bahkan dalam kondisi lemah, beliau tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk.
Sederhana, Grapyak dan Penuh Tamu
Salah satu sifat beliau yang paling menonjol adalah keramahan dan kegemarannya menyambut tamu. Setiap tamu selalu disuguhi dan diminta makan sebelum pulang. Kebiasaan ini sudah beliau dapat dari ibunda, Ibu Nyai Hasyimah. Bahkan ketika beliau bepergian, selalu membawa oleh-oleh bagi tuan rumah.
Kemandirian Perempuan
Ibu Nyai Durroh Nafisah adalah teladan kemandirian perempuan. Beliau terbiasa mengendarai mobil sendiri dan tetap ngajak santri untuk simaan selama di perjalanan. Selain mengasuh pesantren, beliau juga aktif berbisnis seperti membuka toko, menjual perhiasan, dan lainnya. Pesan beliau adalah “perempuan harus cantik bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam prestasi dan ilmu“.
Ketelatenan dalam Kebersihan dan Kerapian
Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian lingkungan pondok. Santri diwajibkan mandi sebelum setoran subuh dan mengenakan pakaian rapi. Seragam menjadi simbol kebersamaan dan keindahan. Mushola dan rumah beliau selalu bersih dan tertata indah. Bunga-bunga artistik menghiasi ruang tamu sebagai wujud kecintaan pada estetika.
Wafatnya Sang Lentera
Kepergian beliau pada Sabtu pagi, 28 Juni 2025, meninggalkan duka mendalam. Ribuan orang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Jenazah beliau dishalatkan berkali-kali dan diantarkan ke makam Dongkelan dengan dipikul para santri dan masyarakat. Kehilangan beliau bagaikan padamnya lentera ilmu di bumi. Sebagai ahli Al-Qur’an, kita yakin beliau kini tengah berada dalam taman surga, mendapat syafaat Al-Qur’an, dan berkumpul dengan orang-orang shaleh shalehah dari keluarganya. Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan beliau dalam membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat. Wallahu a’lam.
Penulis M. Ikhsanudin
(Alumni Ma’had Aly Al-Munawwir, Pengajar Fiqih di Komplek Hindun-Beta)

