
Dimensi Pelaksanaan Penyuluhan
Penyuluhan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dilakukan Protean Institute merupakan wujud nyata dari komitmen visi misi berkelanjutan dalam mendorong tumbuhnya kemandirian dan pemberdayaan masyarakat. Penyuluhan bertempatan di wilayah kelurahan Wonokromo dan Segoroyoso, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025. Penyuluhan ini tidak hanya sekedar kegiatan sosial, tetapi menjadi ruang pemberdayaan yang penuh nilai transformasi. Penyuluhan dilakukan secara berkala melalui metode tatap muka, diskusi serta praktik langsung, sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu memahami, memaknai dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat penerima PKH dibagi ke dalam 14 kelompok yang merupakan gabungan dari beberapa RT. Penyuluhan dilaksanakan satu kali setiap bulan dengan lokasi yang bergantian, biasanya di rumah warga. Setiap pertemuan rata-rata dihadiri oleh lebih dari 25 peserta penerima manfaat PKH. Setiap sesi penyuluhan dirancang inklusif, komunikatif, dan disesuaikan dengan karakteristik masyarakat setempat.
Relevansi Materi Penyuluhan dan Perspektif Penerima Manfaat

Selama lima bulan penyuluhan yang berlangsung dari Agustus hingga Desember 2025, masyarakat penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) menyampaikan berbagai apresiasi atas rangkaian edukasi yang diberikan oleh Protean Institute. Penyuluhan ini berfokus pada peningkatan kapasitas keluarga melalui materi pengasuhan anak, pencegahan stunting, serta penguatan pola asuh positif dalam keluarga. Materi penyuluhan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat, terutama bagi keluarga penerima PKH yang memiliki tanggung jawab besar terhadap tumbuh kembang anak dalam rumah tangga. Materi pola pengasuhan pada anak membantu orang tua memahami peran dalam menciptakan lingkungan emosional yang aman bagi perkembangan psikologis anak; kebutuhan anak pada setiap tahap pertumbuhan, cara berkomunikasi yang efektif, serta strategi mengelola konflik dalam keluarga.
Kemudian materi mengenai pencegahan stunting penting untuk meningkatkan kesadaran orangtua terhadap gizi, pola makan, serta kesehatan anak. Bagi keluarga penerima PKH, materi ini memiliki relevansi yang sangat kuat karena faktor ekonomi sering menjadi kendala dalam pemenuhan nutrisi anak. Melalui edukasi pencegahan stunting, orang tua diharapkan mampu memilih bahan makanan bergizi yang mudah dijangkau, memahami tanda-tanda awal gangguan pertumbuhan, serta menerapkan pola makan yang seimbang meskipun dengan keterbatasan sumber daya.
Selain itu, materi pola mengontrol Gadget pada anak menjadi salah satu aspek penting yang diberikan dalam penyuluhan, mengingat penggunaan teknologi digital kini semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam materi ini, orang tua diajak memahami batasan yang sehat dalam penggunaan gadget, waktu layar (screen time) yang sesuai dengan usia anak, serta dampak negatif yang mungkin timbul jika anak terpapar gadget secara berlebihan, seperti gangguan tidur, penurunan konsentrasi, hingga risiko keterlambatan interaksi sosial. Penyuluhan juga memberikan panduan praktis bagi keluarga mengenai cara memilih konten yang edukatif, menetapkan aturan penggunaan gadget di rumah, serta menjaga komunikasi yang terbuka agar anak tidak merasa dikontrol secara berlebihan.
Pentingnya materi-materi penyuluhan ini bagi keluarga penerima PKH tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi yang seringkali membatasi akses mereka terhadap informasi dan layanan kesehatan yang memadai. Karena itu, penyuluhan menjadi ruang belajar yang membantu keluarga memahami isu-isu kesehatan dan perkembangan anak secara lebih komprehensif. Dengan adanya pemahaman baru ini, keluarga diharapkan mampu menerapkan praktik pengasuhan yang lebih baik, mencegah risiko kesehatan anak sejak dini, serta meningkatkan kualitas kehidupan keluarga secara berkelanjutan. Beberapa narasi dari ibu-ibu PKH.
“ Kami Ucapkan terimakasih kepada tim Protean yang telah bersusah payah memasuki daerah pelosok ini untuk melaksanakan penyuluhan. Kehadiran tim memberikan manfaat terhadap kami keluarga penerima PKH”
“ Melalui materi yang disampaikan kami sebagai orang tua memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak, terutama ketika mereka sedang mengalami emosi negatif. Kami jadi lebih tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus memberi masukan, dan bagaimana memberikan batasan tanpa membuat anak merasa tertekan. Selain itu, materi mengenai pengasuhan positif juga membuka wawasan kami tentang pentingnya membangun kedekatan emosional dengan anak sejak dini”
“ Kami juga merasa terbantu dengan penjelasan mengenai pengendalian penggunaan gadget. Selama ini, kami hanya melarang tanpa tahu cara yang tepat. Setelah mengikuti penyuluhan, kami jadi memahami metode yang lebih efektif, seperti membuat jadwal, memberi contoh, serta menyediakan aktivitas alternatif di rumah.”
Dalam kegiatan refleksi akhir, para penerima manfaat menuturkan bahwa penyuluhan tidak hanya menambah pengetahuan baru, tetapi juga mengubah cara pandang mereka terhadap peran orang tua dalam membentuk tumbuh kembang anak. Penyuluhan yang dilakukan Protean Institute ini menjadi salah satu sinergi edukasi keluarga yang berdampak langsung pada peningkatan literasi pengasuhan di masyarakat. Para penerima manfaat berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan di tahun-tahun selanjtunya untuk memperkuat ketahanan keluarga dan kualitas pengasuhan di wilayah terpencil.
Tantangan dalam Implementasi Penyuluhan pada masyarakat PKH

Dalam pelaksanaan penyuluhan di masyarakat penerima PKH, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh tim pendamping. Salah satunya adalah perbedaan bahasa dan penggunaan istilah lokal yang terkadang tidak mudah dipahami. Kondisi ini membuat proses penyampaian materi memerlukan penyesuaian, baik dari segi pemilihan kata, contoh, maupun cara komunikasi agar pesan yang disampaikan benar-benar dipahami oleh masyarakat. Selain itu, kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri. Akses menuju lokasi penyuluhan terkadang melalui perjalanan yang cukup jauh dan jalan yang tidak selalu mendukung, seperti jalan yang sulit ditempuh saat musim hujan. Hal ini menuntut kesiapan fisik dan waktu dari tim untuk memastikan kegiatan tetap berjalan sesuai jadwal. Tantangan lainnya adalah variasi tingkat pendidikan serta pemahaman masyarakat yang masih minim. Dari semua itu, tim Protean Institute melakukan penyuluhan ini dengan senang hati, tulus. Tim Protean memberikan tanggapan “ ini pengalaman yang sangat berharga dan berdampak, semoga apa yang kami sampaikan mereka dapat mengimplementasikannya”.

Kontributor: Irman Laia
