Optimalkan Nilai Guna Limbah, Protean Institute Bersama Komunitas Wanita Tani Kembangkan Program Rongsokan Berbasis Pemberdayaan

Indonesia menghadapi tantangan yang signifikan terkait pengelolaan sampah. Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Menunjukkan bahwa pada tahun 2023, timbulan sampah nasional mencapai 56,63 juta ton, namun hanya sekitar 39,01% atau 22,09 juta ton yang dikelola secara layak. Artinya, lebih dari 34 juta ton sampah belum terkelola dengan baik, berpotensi mencemari lingkungan, mengganggu ekosistem, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah, komunitas, dan seluruh lapisan masyarakat untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Kota Yogyakarta tahun 2025  menghasilkan rata‑rata 300 ton sampah per hari, sementara kapasitas pengelolaan di tempat pembuangan akhir (TPA) hanya sekitar 600 ton per bulan. Ketidakseimbangan ini menunjukkan perlunya upaya pengurangan, pemilahan, dan pemanfaatan sampah sejak dari sumbernya. Keterlibatan masyarakat, khususnya komunitas lokal, menjadi salah satu strategi penting untuk mengatasi tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah formal.

Menanggapi kondisi sampah yang semakin meningkat,  Komunitas Tani Wanita  Pandes Yogyakarta menghadirkan program  rongsokan sebagai salah satu bentuk inisiatif nyata.  ini bertujuan untuk menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan dari sampah yang berserakan, mengoptimalkan nilai guna sampah, serta memperkuat silaturahmi antar anggota komunitas. Program rongsokan ini telah dimulai pada tahun 2022 hingga sekarang. Setiap anggota berperan aktif dalam memilah sampah, termasuk plastik, kertas, dan logam bekas, yang kemudian dapat diolah atau dijual sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu RT, Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu RT, rongsok yang telah dipilah akan dijual. Seluruh pendapatannya akan dimasukkan ke dalam kas komunitas. Dana tersebut kemudian digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan komunitas maupun kebutuhan di tingkat kelurahan. Dengan adanya pengelolaan rongsok ini, diharapkan partisipasi warga semakin meningkat dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan. Selain aspek lingkungan dan ekonomi, kegiatan rongsokan ini juga menjadi momen strategis untuk memperkuat silaturahmi antar anggota komunitas, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan semangat gotong royong. 

Protean Institute turut mendukung program ini dengan hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong bersama anggota komunitas pada 15 November 2025. Selain terlibat secara fisik, Protean Institute juga melakukan dokumentasi dan peliputan kegiatan sebagai upaya meningkatkan citra, visibilitas, dan kepercayaan publik terhadap inisiatif Komunitas Wanita Tani Pandes. Dukungan ini sejalan dengan komitmen Protean Institute dalam pemberdayaan masyarakat, terutama dalam mendorong peningkatan kesadaran individu, penguatan kapasitas, serta keberlanjutan program berbasis komunitas. Melalui kolaborasi ini, program rongsokan diharapkan tidak hanya memberikan dampak lingkungan dan sosial, tetapi juga menjadi model praktik baik yang mampu menginspirasi komunitas lain dalam mengelola sampah, memperkuat solidaritas warga, dan membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *